Senin, 28 September 2026
Hot

Traveling Nyaman ala Raline Shah, Fleksibel soal Makanan dan Tetap Aktif Meski di Hotel

Aktris Raline Shah membagikan rahasia traveling nyamannya dengan pendekatan fleksibel terhadap makanan dan olahraga. Ia memilih beradaptasi dengan kondisi destinasi.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Bagi Raline Shah, bepergian ke luar negeri tak harus membuat rutinitas berubah menjadi serba kaku. Ketika nasi sulit ditemukan, ia memilih sumber karbohidrat lain. Saat menginap di hotel, latihan singkat di treadmill tetap menjadi pilihan. Kuncinya adalah beradaptasi tanpa membuat perjalanan kehilangan kenikmatannya.

Traveling sering membawa seseorang keluar dari pola sehari-hari. Jadwal makan berubah, pilihan makanan berbeda, waktu istirahat bergeser, sementara aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain bisa cukup padat.

Raline Shah memahami situasi tersebut dengan memilih pendekatan yang fleksibel. Mobilitas tinggi dan perjalanan ke berbagai tempat tidak membuatnya terpaku pada satu pola makan atau rutinitas olahraga yang hanya dapat dilakukan dalam kondisi ideal.

Alih-alih membawa terlalu banyak larangan ketika bepergian, Raline memilih beradaptasi dengan apa yang tersedia sekaligus mempertahankan sejumlah kebiasaan yang menurutnya penting.

Article ad in the middle of article

Tak Memaksakan Nasi Saat Traveling ke Eropa

Salah satu bentuk adaptasi Raline terlihat dari caranya menyikapi makanan ketika berada di luar negeri.

Ia mencontohkan perjalanan ke Eropa, tempat nasi tidak selalu semudah ditemukan seperti di Indonesia. Ketimbang memaksakan diri mencari menu yang sama dengan kebiasaannya di rumah, ia memilih mengganti sumber karbohidrat dengan pilihan lain yang tersedia.

Pendekatan tersebut membuat perjalanan terasa lebih sederhana.

Berada di negara lain memang berarti berhadapan dengan budaya makan yang berbeda. Menu sarapan, sumber karbohidrat, cara penyajian, hingga jam makan dapat berubah mengikuti kebiasaan lokal.

Bagi Raline, perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus membuat perjalanan menjadi rumit.

Ia justru memilih menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi destinasi.

Traveling Tak Perlu Dipenuhi Larangan Makanan

Raline juga memiliki pendekatan yang cukup santai dalam urusan kuliner selama bepergian.

Menurutnya, makanan merupakan bagian dari kenyamanan. Ketika mobilitas sedang tinggi karena traveling, ia tidak ingin tekanan perjalanan bertambah akibat terlalu banyak aturan tentang makanan yang boleh maupun tidak boleh dinikmati.

Cara pandang tersebut terasa relevan dalam konteks perjalanan.

Kuliner merupakan salah satu bagian penting ketika mengenal sebuah destinasi. Terlalu sibuk mempertahankan pola makan yang sangat kaku dapat membuat kesempatan mencicipi pengalaman lokal menjadi terbatas.

Raline memilih jalan tengah: tetap memperhatikan apa yang dikonsumsi, tetapi tidak menjadikan makanan sebagai sumber stres tambahan.

Menjaga Porsi Ketimbang Menghindari Seluruh Makanan

Alih-alih membuat daftar panjang pantangan, Raline lebih menekankan pengaturan porsi.

Ia mengaku tetap menikmati makanan yang disukai, termasuk Soto Medan, Sate Padang, dan Nasi Padang. Ketika memilih makanan yang lebih berminyak, misalnya, ia menyesuaikan jumlah yang dikonsumsi dan memperbanyak sayuran.

Prinsip tersebut juga membuat kebiasaan makannya lebih mudah dibawa saat traveling.

Wisatawan tidak selalu memiliki kendali penuh terhadap menu yang tersedia, terutama ketika berpindah kota, mengikuti jadwal penerbangan, atau berada di tempat dengan pilihan makanan yang berbeda dari rumah.

Fleksibilitas membuat perjalanan tidak harus berhenti hanya karena menu tidak sesuai rutinitas sehari-hari.

Menikmati Kuliner Tanpa Membawa Rasa Bersalah

Ada satu hal lain yang menurut Raline penting: tidak terus menyalahkan diri sendiri setelah menikmati makanan tertentu.

Ia mengatakan kesehatan mental dan kebahagiaan juga perlu mendapat perhatian, sehingga satu pilihan makanan yang dianggap kurang ideal tidak perlu diikuti dengan perasaan bersalah berkepanjangan.

Dalam perjalanan, pendekatan semacam ini membuat pengalaman kuliner terasa lebih natural.

Mencicipi hidangan khas, menikmati makanan bersama teman, atau mencoba sesuatu yang baru merupakan bagian dari pengalaman sebuah destinasi.

Bagi Raline, keseimbangan bukan berarti seluruh keputusan harus selalu sempurna. Yang lebih penting adalah bagaimana kebiasaan secara keseluruhan tetap dapat dikelola.

Jadwal Padat Tak Membuatnya Berhenti Bergerak

Fleksibel soal makanan bukan berarti Raline sepenuhnya meninggalkan rutinitas fisiknya.

Ia justru cukup konsisten berolahraga. Dalam satu minggu, Raline menjadwalkan latihan beban dua hingga tiga kali, sementara aktivitas kardio atau aerobik seperti berjalan kaki dan berenang dilakukannya sekitar 30–45 menit pada pagi hari.

Mobilitas tinggi maupun jadwal pekerjaan yang padat disebut tidak menjadi alasan baginya untuk sepenuhnya berhenti bergerak.

Kebiasaan tersebut kemudian ia sesuaikan ketika sedang bepergian.

Hotel Pun Bisa Menjadi Tempat untuk Tetap Aktif

Salah satu detail menarik dari rutinitas Raline adalah caranya memanfaatkan fasilitas hotel.

Ketika sedang menginap, ia mengatakan dapat menyempatkan sekitar 20 menit berjalan dengan incline di treadmill.

Rutinitas sederhana tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas selama perjalanan tidak harus menyerupai latihan sehari-hari secara persis.

Waktu mungkin lebih singkat. Fasilitas mungkin berbeda. Jadwal juga bisa berubah.

Namun, Raline memilih menyesuaikan rutinitas dengan keadaan yang tersedia.

Bagi wisatawan dengan itinerary panjang, pendekatan tersebut terasa jauh lebih praktis dibandingkan memaksakan program yang sulit diterapkan di tengah perjalanan.

Fleksibilitas Menjadi Kunci Saat Berpindah Tempat

Perjalanan memang jarang berjalan dengan kondisi yang selalu ideal.

Ada penerbangan pagi, perjalanan darat panjang, perubahan zona waktu, agenda pekerjaan, hingga menu yang tidak selalu sama dengan kebiasaan di rumah.

Raline tampaknya memilih tidak melawan setiap perubahan tersebut.

Ketika nasi sulit ditemukan, ia menggantinya dengan sumber karbohidrat lain. Ketika berada di hotel, latihan dapat dipersingkat. Ketika menikmati makanan favorit, fokusnya berada pada porsi, bukan larangan total.

Fleksibilitas inilah yang membuat rutinitas dapat mengikuti perjalanan, bukan justru membuat perjalanan harus mengikuti rutinitas.

Traveling sebagai Pengalaman, Bukan Ujian Disiplin

Ada kecenderungan membuat perjalanan terasa seperti ujian terhadap kebiasaan sehari-hari: apakah olahraga tetap sempurna, pola makan tetap sama, atau semua rutinitas berhasil dilakukan.

Pendekatan Raline menawarkan perspektif yang lebih ringan.

Traveling tetap merupakan pengalaman untuk dinikmati.

Rutinitas dapat dipertahankan sejauh memungkinkan, tetapi penyesuaian bukan berarti kegagalan. Justru kemampuan beradaptasi memungkinkan seseorang menikmati tempat baru tanpa harus kehilangan seluruh kebiasaan yang telah dibangun.

Menyisakan Ruang untuk Kuliner Lokal

Bagi pencinta perjalanan, makanan sering menjadi salah satu pintu terbaik untuk mengenal sebuah tempat.

Karena itu, pola yang terlalu kaku dapat membuat pengalaman kuliner menjadi kurang leluasa.

Raline sendiri tidak sepenuhnya melarang makanan tertentu. Ia lebih memilih memahami porsinya dan menyeimbangkan pilihan tersebut dengan aktivitas fisik yang konsisten.

Pendekatan ini memungkinkan perjalanan tetap memiliki ruang untuk spontanitas.

Ada kesempatan mencoba makanan baru tanpa merasa seluruh rutinitas telah berantakan hanya karena satu kali makan berbeda dari biasanya.

Rutinitas yang Bisa Dibawa ke Mana Saja

Salah satu pelajaran paling menarik dari kebiasaan Raline adalah membuat rutinitas menjadi portable.

Ia tidak membutuhkan kondisi yang selalu sama untuk tetap menjalankan kebiasaannya.

Di luar negeri, pilihan makanan dapat berubah. Di hotel, olahraga dapat dilakukan lebih singkat. Dalam perjalanan yang sibuk, rutinitas bisa disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

Cara seperti ini membuat gaya perjalanan terasa lebih realistis.

Sebab, traveling pada dasarnya adalah proses beradaptasi—dengan tempat, budaya, waktu, makanan, hingga ritme kehidupan yang berbeda dari rumah.

Liburan Tak Harus Membuat Semua Kebiasaan Berhenti

Pergi jauh dari rumah sering menjadi kesempatan untuk keluar dari rutinitas. Namun, tidak berarti setiap kebiasaan harus ditinggalkan sepenuhnya.

Raline mempertahankan bagian-bagian yang dianggap penting, tetapi tidak membuatnya menjadi aturan yang memberatkan.

Ia tetap bergerak, tetap memperhatikan makanan, tetapi juga memberi ruang untuk menikmati perjalanan.

Keseimbangan tersebut membuat traveling tidak berubah menjadi agenda penuh pembatasan.

Menikmati Perjalanan dengan Ritme Sendiri

Pada akhirnya, cara Raline Shah menjalani perjalanan memberi gambaran tentang gaya traveling yang tidak terlalu rumit.

Tak perlu membawa seluruh rutinitas rumah secara identik ke setiap destinasi.

Ketika berada di Eropa dan nasi sulit ditemukan, ia beradaptasi dengan sumber karbohidrat lain. Ketika menginap di hotel, latihan 20 menit di treadmill dapat menjadi pilihan. Saat makanan favorit tersedia, ia memilih menikmatinya dengan memperhatikan porsi daripada menerapkan larangan total.

Pendekatan tersebut membuat satu prinsip terasa jelas: perjalanan seharusnya tetap menjadi pengalaman yang dinikmati, bukan berubah menjadi sumber tekanan karena berusaha mempertahankan kesempurnaan.

Bagi Raline Shah, traveling tampaknya bukan soal meninggalkan rutinitas ataupun mematuhinya secara kaku. Ia memilih jalan yang lebih sederhana—beradaptasi dengan destinasi, tetap bergerak ketika memungkinkan, menikmati makanan tanpa berlebihan, dan memberi ruang bagi dirinya untuk benar-benar menikmati perjalanan.

Article ad after last paragraph