Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Kawasan Lubang Buaya menyisakan tiga rumah bersejarah dari total tiga belas bangunan sebelum monumen didirikan. Bangunan ini menjadi saksi bisu peristiwa Gerakan 30 September, Minggu (4/10/2026).
Sebelum area ini beralih fungsi menjadi Monumen Pancasila Sakti, wilayah seluas lima hektare tersebut dikelilingi kebun karet. Sebanyak sepuluh rumah warga kemudian dibongkar demi kelancaran pembangunan monumen nasional ini.
“Sebelum dibangunnya monumen, itu areanya kan hanya 5 hektare. Kemudian, di dalamnya ada 13 rumah penduduk, otomatis dihuni oleh 13 kepala keluarga. Setelah terjadinya Gerakan 30 September, terus kemudian dibangunlah sebuah monumen, maka 10 rumah dirobohkan atau dihilangkan untuk kepentingan monumen,” ujar Mayor Marinir Masnen,Kasubsi Koleksi Monumen Pancasila Sakti.
“Yang disisakan hanya 3 rumah, rumah penyiksaan, rumah pos komando, dan rumah dapur umum, karena tiga rumah inilah yang saat itu digunakan oleh Gerakan 30 September,” tambah Mayor Marinir Masnen.
Rumah penyiksaan yang dulunya berfungsi sebagai Sekolah Rakyat digunakan PKI untuk menyiksa perwira TNI AD yang diculik hidup-hidup. Para perwira seperti Letjen Ahmad Yani hingga Lettu Pierre Tendean ditawan di bangunan bersejarah ini.
Pada 30 September 1965, Rumah Pos Komando yang mempertahankan perabot aslinya dijadikan markas komando penculikan. Pengunjung masih bisa melihat koleksi asli seperti mesin jahit, tiga lampu petromaks, hingga lemari kaca.
Sementara itu, Rumah Dapur Umum dimanfaatkan untuk menyuplai makanan bagi pasukan pemberontak pada 1 Oktober 1965. Kompleks bersejarah di Cipayung, Jakarta Timur ini juga memiliki Sumur Maut tempat pembuangan jenazah para korban.
Sumber:
- https://travel.detik.com/travel-news/d-8687007/terpopuler-sejarah-rumah-di-kawasan-lubang-buaya











